Selasa, 29 Agustus 2017

Belajar Toleransi Pada Negerinya Komunis




Tidak percaya Tuhan, apakah tidak bertoleransi?
Pertanyaan tersebut yang akan saya coba jawab berdasarkan pengalaman saya pada cerita kali ini.



Sedih rasanya melihat kondisi Negara kita belakangan ini yang saya rasa berhasil di pecah belah oleh isu agama. Agama yang seharusnya jadi senjata pemersatu bangsa, kini sukses jadi senjata makan tuan hingga memanaskan situasi seantero negeri. Tidak perlulah saya sebutkan kasus ini kasus itu, karena di tulisan ini saya hanya mau bercerita tentang pengalaman ketika saya pernah tinggal satu atap bersama keluarga yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan, atau biasa kita kenal dengan “Komunis”.

Latar tempat cerita ini tentunya bukan di Indonesia, tapi di negeri paman Ho, Vietnam. Pengalaman ini juga saya dapat pada pertengahan tahun 2014, dimana pada saat itu isu-isu agama belum seheboh sekarang di Indonesia. Sekitar dua minggu pertama dari total durasi 50 hari yang saya miliki di kota Hanoi saya habiskan dengan tinggal bersama keluarga yang memiliki paham komunis. Wajar saja, karena Vietnam merupakan salah satu Negara yang mayoritas penduduknya menganut paham komunisme. Saya pergi ke Hanoi pada waktu itu untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari organisasi kampus yang bernama AIESEC, mungkin banyak yang sudah mengetahui AIESEC,tapi untuk yang belum tahu, saya persilahkan untuk googling jika kalian pensaran, karena di tulisan ini saya tidak akan bahas kegiatan pertukaran saya.

Selama kurang lebih sepuluh hari, saya tinggal bersama host family (nama program yang dimiliki AIESEC untuk membantu akomodasi para peserta pertukaran). Rumah yang bersedia menampung saya milik teman Vietnam saya yang bernama Hieu (Hiu). Seperti yang saya bilang, Hieu dan keluarganya memiliki paham komunis, anggota keluarganya tidak banyak, karena dia hanya tinggal bertiga dengan ayah dan ibunya, sedangkan kakaknya sudah menikah dan tinggal di rumah yang berbeda. Awalnya saya ragu apakah saya bisa bertahan di Hanoi dengan tinggal bersama mereka, dan apa mereka bisa menerima saya sebagai muslim di rumah mereka. Hingga  akhirnya, hari pertama saya hanya habiskan dengan mengurung diri di kamar dan memakan bekal yang saya bawa dari Indonesia. Sesekali saya dan orangtua Hieu hanya berinteraksi dengan bahasa tubuh, karena beliau tidak bisa berbahasa inggris dan saya tidak mengerti bahasa Vietnam.

Meskipun begitu, Hieu dan keluarganya menyambut saya dengan sangat baik, ibunya bahkan selalu memasak ikan atau ayam untuk saya makan karena beliau tahu saya tidak makan babi (walaupun mungkin masih tetap haram karena cara masak atau bumbu yang digunakan) tapi saya sangat mengapresiasi hal tersebut. Mereka sangat antusias mendengarkan cerita saya tentang islam, kenapa kami tidak makan babi, kenapa kami harus sholat lima waktu dalam sehari, dan banyak cerita lain yang saya sudah lupa karena hampir setiap waktu makan malam, kami selalu berbagi cerita satu sama lain di meja makan dengan system translate. Saya berbicara dan hieu mengartikan cerita saya ke orangtuanya, begitu juga sebaliknya. Rasa khawatir yang saya alami di hari pertama pun sedikit demi sedikit mulai sirna pada saat itu.

Lalu bagaimana dengan sholat saya?
Saya tidur di kamar Hieu, dan selalu sholat di dalam kamar. Hieu bahkan terkadang keluar kamar saat saya hendak sholat karena tidak ingin mengganggu ibadah saya. Karena merasa tidak enak, akhirya saya bilang kalau dia tidak perlu sampai keluar kamar saaat saya sholat. Begitu juga saat kami berada di luar rumah, Hieu selalu menunggu saat saya sholat sambil terkadang memperhatikan saya. Karena di kota Hanoi hanya ada satu masjid dan itu letaknya cukup jauh, jadi terkadang saya sholat di sudut ruangan atau lokasi manapun yang memungkinkan saya untuk melakukan sholat, dan tidak pernah saya menerima perlakuan buruk saat saya sholat. Beberapa orang mungkin melihat ke arah saya dan bertanya-tanya, tapi hieu selalu berhasil memberikan penjelasan ke orang-orang tersebut.

Satu minggu sekali, saya selalu mencuci pakaian dan menjemurnya di lantai paling atas di rumah. Sedikit bercerita, mayoritas rumah penduduk di Hanoi bentuknya seperti ruko, tidak luas tanah yang mereka miliki, tapi dibangun secara vertikal. Begitu juga rumah keluarga Hieu, tingginya lima lantai, dan tentunya tanpa lift. Cukup melelahkan ketika saya merasa haus atau lapar di kamar (lantai empat) dan harus mengambil makanan di lantai satu. Tepat di lantai paling atas, ada tempat menjemur pakaian yang di sebelahnya terdapat tempat beribadah lengkap dengan sejenis dupa (saya tidak tau harus menyebutnya apa tapi saya yakin itu digunakan untuk berdoa). Karena rasa penasaran yang tinggi, saya tanya ke Hieu tentang apa yang saya lihat. Ternyata benar dugaan saya, alat tersebut digunakan untuk berdoa. Sejauh ini, yang saya tahu adalah komunis tidak percaya Tuhan sehingga mindset yang saya miliki adalah mereka tidak pernah berdoa. Tapi ternyata pemikiran saya salah, Hieu menjelaskan pada saya bahwa komunis di Hanoi selalu memanjatkan doa dan meminta pertolongan pada nenek moyang mereka.

Seiring berjalannya program yang saya ikuti, teman-teman yang saya dapat di Hanoi pun semakin bertambah. Saya memiliki satu teman dekat lagi selain Hieu di kota tersebut, dia adalah Nichole. Nama aslinya bukanlah Nichole, tapi  karena ia sadar kalau nama aslinya cukup sulit untuk diucapkan oleh turis seperti saya, maka ia membuat nama panggilan yang lebih mudah. Seperti halnya Hieu, Nichole juga merupakan orang yang sangat membantu saya selama hidup di Vietnam.

Sebagai seorang laki-laki muslim, setiap jumat saya harus pergi ke masjid untuk sholat jumat. Seperti yang saya ceritakan di atas, kalau masjid di Hanoi hanya ada satu karena populasi umat muslim di kota ini hanya sekitar 60 orang saja. Jarak dari rumah ke masjid pun kira-kira sejauh 20km, sehingga saya cukup kebingungan untuk sholat jumat saat itu, karena belum ada transportasi online di Hanoi pada tahun 2014, sedangkan waktu istirahat yang saya miliki tidak cukup untuk menempuh perjalanan naik bus ke masjid. Hingga akhirnya di luar dugaan saya, Nichole menawarkan diri untuk mengantar saya ke masjid. Tidak hanya sekali, bahkan setiap hari jumat dia selalu menjemput saya dari lokasi project ataupun dari rumah untuk pergi jumatan. Saya tidak bisa memberinya imbalan apa-apa selain terimakasih dan salut atas toleransi yang ia miliki. Nichole mengaku sangat senang bila mengantar saya ke masjid, dia beralasan bahwa dia bisa ikut juga mendengarkan ceramah dari luar dan melihat penampilan muslim-muslim lain dari penjuru dunia yang sedang berada di Hanoi saat itu.


Secara garis besar, saya merasa sangat dihargai sebagai kaum beragama di kota Hanoi. Dari tulisan ini, saya berharap kelak tidak ada lagi diskriminasi, intoleransi, dan hal buruk lainnya yang mengatasnamakan agama di Indonesia. Saya belajar dari pengalaman ini, bahwa mereka yang tidak percaya Tuhan pun sanggup menerima saya dengan baik sebagai umat beragama. Lalu mengapa kita yang sama-sama memiliki Tuhan dan agama tidak bisa menerima perbedaan satu sama lain?





masjid al-noor (satu-satunya masjid di kota Hanoi)

0 komentar:

Posting Komentar