Belajar Toleransi Pada Negerinya Komunis
Tidak percaya Tuhan, apakah
tidak bertoleransi?
Pertanyaan tersebut yang akan saya coba jawab berdasarkan pengalaman saya pada cerita kali ini.
Sedih rasanya melihat
kondisi Negara kita belakangan ini yang saya rasa berhasil di pecah belah oleh
isu agama. Agama yang seharusnya jadi senjata pemersatu bangsa, kini sukses
jadi senjata makan tuan hingga memanaskan situasi seantero negeri. Tidak
perlulah saya sebutkan kasus ini kasus itu, karena di tulisan ini saya hanya
mau bercerita tentang pengalaman ketika saya pernah tinggal satu atap bersama
keluarga yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan, atau biasa kita kenal
dengan “Komunis”.
Latar tempat cerita ini
tentunya bukan di Indonesia, tapi di negeri paman Ho, Vietnam. Pengalaman ini
juga saya dapat pada pertengahan tahun 2014, dimana pada saat itu isu-isu agama
belum seheboh sekarang di Indonesia. Sekitar dua minggu pertama dari total
durasi 50 hari yang saya miliki di kota Hanoi saya habiskan dengan tinggal
bersama keluarga yang memiliki paham komunis. Wajar saja, karena Vietnam
merupakan salah satu Negara yang mayoritas penduduknya menganut paham
komunisme. Saya pergi ke Hanoi pada waktu itu untuk mengikuti program
pertukaran pelajar dari organisasi kampus yang bernama AIESEC, mungkin banyak
yang sudah mengetahui AIESEC,tapi untuk yang belum tahu, saya persilahkan untuk
googling jika kalian pensaran, karena di tulisan ini saya tidak akan bahas
kegiatan pertukaran saya.
Selama kurang lebih sepuluh
hari, saya tinggal bersama host family
(nama program yang dimiliki AIESEC untuk membantu akomodasi para peserta
pertukaran). Rumah yang bersedia menampung saya milik teman Vietnam saya yang
bernama Hieu (Hiu). Seperti yang saya bilang, Hieu dan keluarganya memiliki
paham komunis, anggota keluarganya tidak banyak, karena dia hanya tinggal
bertiga dengan ayah dan ibunya, sedangkan kakaknya sudah menikah dan tinggal di
rumah yang berbeda. Awalnya saya ragu apakah saya bisa bertahan di Hanoi dengan
tinggal bersama mereka, dan apa mereka bisa menerima saya sebagai muslim di
rumah mereka. Hingga akhirnya, hari
pertama saya hanya habiskan dengan mengurung diri di kamar dan memakan bekal yang
saya bawa dari Indonesia. Sesekali saya dan orangtua Hieu hanya berinteraksi
dengan bahasa tubuh, karena beliau tidak bisa berbahasa inggris dan saya tidak
mengerti bahasa Vietnam.
Meskipun begitu, Hieu dan
keluarganya menyambut saya dengan sangat baik, ibunya bahkan selalu memasak
ikan atau ayam untuk saya makan karena beliau tahu saya tidak makan babi
(walaupun mungkin masih tetap haram karena cara masak atau bumbu yang
digunakan) tapi saya sangat mengapresiasi hal tersebut. Mereka sangat antusias
mendengarkan cerita saya tentang islam, kenapa kami tidak makan babi, kenapa
kami harus sholat lima waktu dalam sehari, dan banyak cerita lain yang saya
sudah lupa karena hampir setiap waktu makan malam, kami selalu berbagi cerita
satu sama lain di meja makan dengan system translate.
Saya berbicara dan hieu mengartikan cerita saya ke orangtuanya, begitu juga
sebaliknya. Rasa khawatir yang saya alami di hari pertama pun sedikit demi
sedikit mulai sirna pada saat itu.
Lalu bagaimana dengan sholat
saya?
Saya tidur di kamar Hieu,
dan selalu sholat di dalam kamar. Hieu bahkan terkadang keluar kamar saat saya
hendak sholat karena tidak ingin mengganggu ibadah saya. Karena merasa tidak
enak, akhirya saya bilang kalau dia tidak perlu sampai keluar kamar saaat saya
sholat. Begitu juga saat kami berada di luar rumah, Hieu selalu menunggu saat
saya sholat sambil terkadang memperhatikan saya. Karena di kota Hanoi hanya ada
satu masjid dan itu letaknya cukup jauh, jadi terkadang saya sholat di sudut
ruangan atau lokasi manapun yang memungkinkan saya untuk melakukan sholat, dan
tidak pernah saya menerima perlakuan buruk saat saya sholat. Beberapa orang
mungkin melihat ke arah saya dan bertanya-tanya, tapi hieu selalu berhasil
memberikan penjelasan ke orang-orang tersebut.
Satu minggu sekali, saya
selalu mencuci pakaian dan menjemurnya di lantai paling atas di rumah. Sedikit
bercerita, mayoritas rumah penduduk di Hanoi bentuknya seperti ruko, tidak luas
tanah yang mereka miliki, tapi dibangun secara vertikal. Begitu juga rumah
keluarga Hieu, tingginya lima lantai, dan tentunya tanpa lift. Cukup melelahkan ketika saya merasa haus atau lapar di kamar
(lantai empat) dan harus mengambil makanan di lantai satu. Tepat di lantai
paling atas, ada tempat menjemur pakaian yang di sebelahnya terdapat tempat
beribadah lengkap dengan sejenis dupa (saya tidak tau harus menyebutnya apa
tapi saya yakin itu digunakan untuk berdoa). Karena rasa penasaran yang tinggi,
saya tanya ke Hieu tentang apa yang saya lihat. Ternyata benar dugaan saya,
alat tersebut digunakan untuk berdoa. Sejauh ini, yang saya tahu adalah komunis
tidak percaya Tuhan sehingga mindset yang saya miliki adalah mereka tidak
pernah berdoa. Tapi ternyata pemikiran saya salah, Hieu menjelaskan pada saya
bahwa komunis di Hanoi selalu memanjatkan doa dan meminta pertolongan pada
nenek moyang mereka.
Seiring berjalannya program
yang saya ikuti, teman-teman yang saya dapat di Hanoi pun semakin bertambah.
Saya memiliki satu teman dekat lagi selain Hieu di kota tersebut, dia adalah
Nichole. Nama aslinya bukanlah Nichole, tapi
karena ia sadar kalau nama aslinya cukup sulit untuk diucapkan oleh
turis seperti saya, maka ia membuat nama panggilan yang lebih mudah. Seperti
halnya Hieu, Nichole juga merupakan orang yang sangat membantu saya selama
hidup di Vietnam.
Sebagai seorang laki-laki
muslim, setiap jumat saya harus pergi ke masjid untuk sholat jumat. Seperti
yang saya ceritakan di atas, kalau masjid di Hanoi hanya ada satu karena
populasi umat muslim di kota ini hanya sekitar 60 orang saja. Jarak dari rumah
ke masjid pun kira-kira sejauh 20km, sehingga saya cukup kebingungan untuk
sholat jumat saat itu, karena belum ada transportasi online di Hanoi pada tahun
2014, sedangkan waktu istirahat yang saya miliki tidak cukup untuk menempuh
perjalanan naik bus ke masjid. Hingga akhirnya di luar dugaan saya, Nichole
menawarkan diri untuk mengantar saya ke masjid. Tidak hanya sekali, bahkan
setiap hari jumat dia selalu menjemput saya dari lokasi project ataupun dari
rumah untuk pergi jumatan. Saya tidak bisa memberinya imbalan apa-apa selain
terimakasih dan salut atas toleransi yang ia miliki. Nichole mengaku sangat
senang bila mengantar saya ke masjid, dia beralasan bahwa dia bisa ikut juga
mendengarkan ceramah dari luar dan melihat penampilan muslim-muslim lain dari
penjuru dunia yang sedang berada di Hanoi saat itu.
Secara garis besar, saya
merasa sangat dihargai sebagai kaum beragama di kota Hanoi. Dari tulisan ini,
saya berharap kelak tidak ada lagi diskriminasi, intoleransi, dan hal buruk
lainnya yang mengatasnamakan agama di Indonesia. Saya belajar dari pengalaman
ini, bahwa mereka yang tidak percaya Tuhan pun sanggup menerima saya dengan
baik sebagai umat beragama. Lalu mengapa kita yang sama-sama memiliki Tuhan dan
agama tidak bisa menerima perbedaan satu sama lain?
masjid al-noor (satu-satunya masjid di kota Hanoi)



0 komentar:
Posting Komentar